Menjadi tenaga pendidik atau guru bukanlah cita‑cita yang menjadi pilihan banyak orang. Karena konsekuensi antara tugas dan penghargaan yang kadang tidak seimbang.
Namun, nampaknya, risiko itu bukan menjadi penghalang bagi Siti Meisaroh SPd untuk terjun di dunia pendidikan. Terutama menjadi guru atau pengajar anak‑anak usia Taman Kanak‑kanak.
Menurut wanita yang pernah menjadi Kepala Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kauman selama lebih dari 35 tahun tersebut, berkumpul bersama dengan anak‑anak setiap hari membuatnya selalu bersemangat. Selain itu, juga membuat wanita kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1951 tersebut merasa awet muda.
"Anak‑anak selalu enerjik dan bersemangat melakukan apa saja. Hal itu yang akhirnya mempengaruhi diri saya untuk ikut bersemangat. Selain itu di tengah anak‑anak rasanya muda terus," papar Siti Meisaroh, yang pernah menjadi ketua Ikatan Guru Bustanul Athfal DIY tersebut.
Karena kedekatannya dengan anak‑anak, maka pola mengajar yang diterapkan di sekolahnya pun tidak sekadar antara guru dan murid. Namun lebih sebagai keluarga besar yang mempunyai peran masing‑masing. Pola pengajaran itu pula yang akhirnya menghantarkan ibu dua putri, yakni Laila Nurhikmah Nadzoang (siswi SMPN 4) dan Laili Siti Nursida Benna (siswi SMPN 15) meraih berbagai penghargaan di dunia pendidikan. Di antaranya sebagai Guru Berprestasi Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta pada 2002, Juara II Guru TK ABA Berprestasi Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Yogyakarta 2005, Juara II Keserasian Busana Komite BP3 dan sebagainya.
Dengan kesibukan mengajar dan aktif di berbagai organisasi pendidikan maupun wanita, istri dari Machfoed Ardi tersebut tidak melupakan keluarga. Karena, baginya keluarga adalah bagian dari hidupnya yang paling penting.
"Keluarga adalah yang terutama. Sesibuk apapun, saya selalu menyempatkan waktu untuk bersama anak‑anak dan keluarga," paparnya. Makan pagi dan malam bersama‑sama keluarga menjadi satu hal yang wajib keluarga Siti Meisaroh lakukan.
Dengan berkumpul bersama seperti itu, menurutnya, maka komunikasi akan terus terjalin dengan baik. "Dengan komunikasi, ego masing‑masing anggota keluarga bisa dikompromikan satu sama lain karena saling pengertian akan tercapai dalam komunikasi tersebut," tambahnya.
Jumat, 29 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar